Mengandung Banyak Manfaat

Inilah 7 Ayat tentang Maulid Nabi, Berikut Dalil dan Pandangan Ulama

ilustrasi alquran

JAKARTA--(KIBLATRIAU.COM)-- Maulid Nabi adalah peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Meskipun secara seremonial perayaan Maulid berkembang di masa setelah Rasulullah SAW, substansi dan landasan mengagungkan hari kelahiran beliau terpancar kuat dalam ayat-ayat Al-Qur'an.Apa saja ayat tentang Maulid Nabi Muhammad SAW? Serta bagaimana pandangan para ulama?.

Mengutip Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Rasulullah SAW dilahirkan pada Senin pagi, tanggal 9 Rabiul Awal Tahun Gajah 571 M di Kota Makkah. Pendapat lain yang banyak diyakini ulama menyebut Nabi Muhammad SAW lahir pada 12 Rabiul Awal. Beliau lahir di tengah keluarga Bani Hasyim dalam keadaan yatim. Abdullah bin Abdul Muthalib, sang ayah, telah wafat saat beliau masih berada di dalam kandungan.

Kelahiran beliau diiringi dengan berbagai pertanda alam yang luar biasa, seperti terpancarnya cahaya yang menerangi istana-istana di Syam, runtuhnya sepuluh balkon istana Kisra, padamnya api yang disembah orang Majusi dan runtuhnya beberapa gereja di sekitar Buhairah.Syaikh Shafiyyurrahman menegaskan kelahiran Muhammad SAW adalah titik awal terbitnya fajar petunjuk yang mengikis kegelapan jahiliah di muka bumi.

7 Ayat Al-Qur'an tentang Kemuliaan dan Momen Maulid Nabi
Tidak ada ayat dalam Al-Qur'an yang secara spesifik menceritakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Namun, ada beberapa ayat yang menjadi dalil untuk memahami keagungan, kemuliaan, dan wujud syukur atas kehadiran Rasulullah SAW di muka bumi.

1. Surah Yunus Ayat 58 - Perintah Bergembira atas Rahmat Allah
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Artinya: "Katakanlah (Muhammad), 'Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan'."

2. Surah Al-Anbiya Ayat 107 - Rasulullah Adalah Rahmat Semesta Alam
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Artinya: "Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam."

3. Surah Al-Ahzab Ayat 21 - Teladan Terbaik bagi Umat Manusia
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Artinya: "Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah."

4. Surah Ali 'Imran Ayat 164 - Karunia Besar Diutusnya Sang Rasul
لَقَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَۚ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

Artinya: "Sungguh, Allah benar-benar telah memberi karunia kepada orang-orang mukmin ketika (Dia) mengutus di tengah-tengah mereka seorang Rasul (Muhammad) dari kalangan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab Suci (Al-Qur'an) dan hikmah. Sesungguhnya mereka sebelum itu benar-benar dalam kesesatan yang nyata."

5. Surah Al-Hajj Ayat 32 - Memuliakan Syiar-Syiar Agama Allah
ذٰلِكَ وَمَنْ يُّعَظِّمْ شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ فَاِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ

Artinya: "Demikianlah (perintah Allah). Siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah501) sesungguhnya hal itu termasuk dalam ketakwaan hati."

6. Surah Al-A'raf Ayat 157 - Perintah Memuliakan dan Mengikuti Nabi
اَلَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الرَّسُوْلَ النَّبِيَّ الْاُمِّيَّ الَّذِيْ يَجِدُوْنَهٗ مَكْتُوْبًا عِنْدَهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ وَالْاِنْجِيْلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهٰىهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبٰۤىِٕثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ اِصْرَهُمْ وَالْاَغْلٰلَ الَّتِيْ كَانَتْ عَلَيْهِمْۗ فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِهٖ وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ مَعَهٗٓ ۙاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ࣖ

Artinya: "(Yaitu,) orang-orang yang mengikuti Rasul (Muhammad), Nabi yang ummi (tidak pandai baca tulis) yang (namanya) mereka temukan tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka. Dia menyuruh mereka pada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, menghalalkan segala yang baik bagi mereka, mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban serta belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya terang yang diturunkan bersamanya (Al-Qur'an), mereka itulah orang-orang beruntung."

7. Surah Al-Ahzab Ayat 56 - Perintah Bersholawat kepada Nabi
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."

Pandangan Ulama tentang Peringatan Maulid Nabi
Merujuk ulasan fatwa di laman NU Online, para ulama memandang peringatan Maulid Nabi sebagai amalan yang dianjurkan dan bernilai pahala:

Imam Jalaluddin al-Suyuthi
Dalam kitab Al-Hawi lil Fatawi, Imam Jalaluddin al-Suyuthi menerangkan bahwa peringatan Maulid tergolong bid'ah hasanah. Ketika perayaan Maulid, manusia berkumpul, membaca Al-Qur'an, dan kisah teladan Nabi. Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi SAW dan menunjukkan kegembiraan atas kelahiran Nabi SAW.

Imam Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haitami asy-Syafi'i
Ulama besar mazhab Syafi'i, Ibnu Hajar al-Haitami, menjelaskan dalam kitab al-Ni'matu al-Kubra 'ala al-Alam fi Maulidi Sayyidi Waladi Adam terkait pandangan tiga khulafaur rasyidin tentang Maulid Nabi.

Sayyidina Umar bin Khattab berpandangan, bagi yang mengagungkan Maulid Nabi, ia telah menghidupkan agama Islam. Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq berpendapat, yang menginfakkan satu dirham atas dibacanya maulid setara dengan membela agama pada Perang Badar. Sementara Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengatakan orang yang mengagungkan Maulid Nabi dan menjadi sebab dibacanya Maulid akan masuk surga tanpa hisab. Namun, atsar tersebut tidak memiliki dasar kuat.

Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani
Sayyid Maliki dalam Mafahim Yajibu An-Tushahha mengatakan mengadakan Maulid Nabi SAW merupakan tradisi yang baik dan mengandung banyak manfaat sebab adanya karunia yang besar.(Net/Hen)
 


Berita Lainnya...

Tulis Komentar